Ads 468x60px

Jumat, 09 Juli 2010

Model Inkuiri

Pemahaman Konsep Pembelajaran dengan Inkuiri

Melatih siswa untuk berpikir, memecahkan masalah dan menemukan sesuatu bukan merupakan tujuan

pendidikan yang baru. Demikian pula halnya dengan strategi pembelajaran penemuan, inkuiri atau

induktif. Inkuiri, pada tingkat paling dasar dapat dipandang sebagai proses menjawab pertanyaan

atau memecahkan permasalahan berdasarkan fakta dan pengamatan.

Siklus inkuiri terdiri dari kegiatan mengamati, bertanya, menyelidiki, menganalisa dan

merumuskan teori, baik secara individu maupun bersama-sama dengan teman lainnya. Mengembangkan

dan sekaligus menggunakan keterampilan berpikir kritis (Star, 2001:1).




Menurut Arends, “The overal goal of inquiry teaching has been, and continues to be, that

helping student learn how to ask question, seek answers or solution to satisfy their curiosity,

and building their own theories and ideas about the world” (Arends, 1994: 386).

Pada prinsipnya tujuan pengajaran inkuiri membantu siswa bagaimana merumuskan pertanyaan,

mencari jawaban atau pemecahan untuk memuaskan keingintahuannya dan untuk membantu teori dan

gagasannya tentang dunia. Lebih jauh lagi dikatakan bahwa pembelajaran inkuiri bertujuan untuk

mengembangkan tingkat berpikir dan juga keterampilan berpikir kritis.




Dalam pandangan CTL pengajaran dan pembelajaran sains di kelas haruslah berwujud proses

inkuiri, sebuah proses yang ditempuh oleh para ilmuwan dan terdiri atas unsur-unsur siklus

mengamati, mengajukan pertanyaan, mengajukan penjelasan-penjelasan dan hipotesis-hipotesis,

merancang dan melakukan eksperimen-eksperimen, menganalisis data eksperimen, menarik kesimpulan

eksperimen, dan membangun model atau teori. Proses inkuiri selama pengajaran dan pembelajaran

berdampak konstruktif yang memberi banyak peluang dan tenaga untuk meningkatkan keefektifan

pengajaran dan pembelajaran.




Uraian berikut menunjukkan dasar dari pernyataan ini: Inkuiri adalah mengajukan

pertanyaan-pertanyaan, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijawab dan mengantarkan pada

pengujian dan eksplorasi bermakna. Inkuiri adalah seni dan sains tentang mengajukan dan

menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menghendaki pengamatan dan pengukuran, pengajuan hipotesis

dan penafsiran, pembangunan dan pengujian model melalui eksperimen, refleksi, dan pengakuan

atas kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari metode penyelidikan yang digunakan.

Selama inkuiri, guru dapat mengajukan suatu pertanyaan atau mendorong siswa mengajukan

pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri, yang dapat bersifat open-ended, memberi peluang siswa

untuk mengarahkan penyelidikan mereka sendiri dan menemukan jawaban-jawaban yang mungkin dari

mereka sendiri, dan mengantar pada lebih banyak pertanyaan lain.

Inkuiri adalah apa yang dilakukan para ilmuwan, yang berarti siswa memiliki ruang, peluang, dan

dorongan untuk bekerja (hands-on, minds-on, dan sosials-on) dalam cara formal dan sistematik

yang teruji dan terulangi dalam membangun body of information yang bermakna.




Dalam pengamalan sains sebagai inkuiri, siswa belajar bagaimana menjadi ilmuwan, tidak hanya

sekedar belajar melalui penghafalan-pengulangan dan pedrillan-penerapan berulang body of facts

and concepts.




Inkuiri menyediakan siswa beraneka ragam pengalaman konkrit dan pembelajaran aktif yang

mendorong dan memberikan ruang dan peluang kepada siswa untuk mengambil inisiatif dalam

mengembang keterampilan pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian sehingga

memungkinkan mereka menjadi pebelajar sepanjang hayat.




Inkuiri melibat komunikasi yang berarti tersedia suatu ruang, peluang, dan tenaga bagi siswa

untuk mengajukan pertanyaan dan pandangan yang logis, obyektif, dan bermakna, dan untuk

melaporkan hasil-hasil kerja mereka.




Inkuiri memungkinkan guru belajar tentang siapakah siswa mereka, apa yang siswa ketahui, dan

bagaimana pikiran siswa mereka bekerja, sehingga guru dapat menjadi fasilitator yang lebih

efektif berkat adanya pemahaman guru mengenai siswa mereka.




Selama inkuiri, guru belajar untuk selalu menggigit lidahnya, artinya mengekang diri agar tidak

memberikan terlalu banyak petunjuk, pertanyaan, dan jawaban, karena hal itu akan merebut

kesempatan siswa untuk belajar. Inkuiri menghendaki siswa untuk mengambil tanggung jawab atas

pendidikan mereka sendiri




Metode inkuiri ditempuh dengan menerapkan lima langkah dalam kegiatan pembelajaran (Eggen &

Kauchack, dalam Farcis, 2001: 40)

1. Merumuskan pertanyaan atau permasalahan

2. Merumuskan hipotesis

3. Mengumpulkan data

4. Menguji hipotesis

5. Membuat kesimpulan




Kegiatan pembelajaran selama menggunakan metode inkuiri ditentukan oleh keseluruhan aspek

pengajaran di kelas, proses keterbukaan dan peran siswa aktif. Pada prinsipnya, keseluruhan

proses pembelajaran membantu siswa menjadi mandiri, percaya diri dan yakin pada kemampuan

intelektualnya sendiri untuk terlibat secara aktif. Peran guru bukan hanya membagikan

pengetahuan dan kebenaran, namun juga berperan sebagai penuntun dan pemandu (Arends, 1994:

373).




Peran guru adalah menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran. Bukan memberikan informasi

atau ceramah kepada siswa. Guru juga harus memfokuskan pada tujuan pembelajaran, yaitu

mengembangkan tingkat berpikir yang lebih tinggi dan keterampilan berpikir kritis siswa. Setiap

pertanyaan yang diajukan siswa sebaiknya tidak langsung dijawab oleh guru, namun siswa

diarahkan untuk berpikir tentang jawaban dari pertanyaan tersebut.




A. Standar Pengajaran Sains

1. Teaching Standard: Merencanakan Program Sains Berbasis Inkuiri

a. Mengembangkan suatu kerangka-kerja tujuan jangka panjang dan jangka pendek.

b. Memilih isi sains dan mengadaptasi serta merancang program sains sekolah untuk memenuhi

minat, pengetahuan, pemahaman, kemampuan, dan pengalaman siswa.

c. Memilih strategi pengajaran dan asesmen yang menunjang pengembangan pemahaman siswa dan

memelihara suatu masyarakat pebelajar sains.

d. Bekerja sama sebagai kolega di dalam dan antar disiplin dan tingkat kelas.




2. Sains Sebagai Inkuiri pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

Menurut Nur (2001: 5) standar sains melakukan inkuiri ilmiah pada SLTP sebagai suatu hasil

kegiatan di sekolah seharusnya mengembangkan dua hal berikut ini.

a. Kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk melakukan inkuiri ilmiah.

b. Pemahaman tentang inkuiri ilmiah




3. Pengembangan Kemampuan-kemampuan dan Pemahaman Siswa

Siswa di kelas-kelas sekolah lanjutan tingkat pertama seharusnya diberikan kesempatan untuk

terlibat dalam inkuiri-inkuiri utuh dan sebagian (Nur, 2001:5). Dalam suatu inkuiri utuh siswa

mulai dengan suatu pertanyaan, merancang suatu penyelidikan, mengumpulkan bukti, merumuskan

suatu jawaban terhadap pertanyaan semula, dan mengkomunikasikan proses dan hasil-hasil

penyelidikan tersebut. Dalam inkuiri sebagian, mereka mengembangkan kemampuan-kemampuan dan

pemahaman tentang aspek-aspek proses inkuiri tertentu. Sebagai misal, siswa dapat

mendekripsikan bagaimana mereka akan merancang suatu penyelidikan, mengembangkan

penjelasan-penjelasan berdasarkan pada informasi ilmiah dan bukti yang diperoleh melalui suatu

aktivitas kelas, atau mengenali dan menganalisis beberapa penjelasan alternatif untuk suatu

gejala alam yang disajikan dalam suatu demonstrasi guru.




Siswa di kelas-kelas sekolah lanjutan pertama mulai mengenali hubungan antara penjelasan dan

bukti. Mereka dapat memahami bahwa pengetahuan yang melatarbelakangi dan teori-teori memandu

dalam merancang penyelidikan-penyelidikan, jenis-jenis pengamatan yang dibuat, dan penafsiran

data. Selanjutnya, eksperimen-eksperimen dan penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan siswa

akan merupakan pengalaman yang membentuk dan memodifikasi pengetahuan latar belakang mereka.




4. Panduan Untuk Mencapai Standar Sains sebagai Inkuiri

Kemampuan-kemampuan dan konsep-konsep fundamental yang melandasi standar ini meliputi hal-hal

berikut ini.




a. Mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijawab melalui penyelidikan ilmiah

Menurut Nur (2001: 9) siswa seharusnya mengembangkan kemampuan untuk lebih menajamkan dan lebih

memfokuskan pertanyaan-pertanyaan yang rumusannya luas dan pendefinisiannya lemah. Suatu aspek

penting dari kemampuan ini terdiri dari kemampuan siswa untuk mengklarifikasi

pertanyaan-pertanyaan dan inkuiri-inkuiri serta mengarahkannya ke arah obyek-obyek atau gejala

yang dapat dideskribsikan, dijelaskan atau diramalkan dengan penyelidikan-penyelidikan ilmiah.

Siswa seharusnya mengembangkan kemampuan untuk mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan mereka

dengan ide-ide dan konsep-konsep ilmiah, serta hubungan-hubungan kuantitatif yang membimbing

penyelidikan.




b. Merancang dan melakukan suatu penyelidikan ilmiah

Siswa seharusnya mengembangkan kemampuan-kemampuan umum, seperti pengamatan sistematik,

melakukan pengukuran cermat, dan pengidentifikasian serta pengontrolan variabel. Mereka

seharusnya juga mengembangkan kemampuan untuk mengklarifikasi ide-ide mereka yang mempengaruhi

dan membimbing inkuiri, dan memahami bagaimana ide-ide tersebut sejalan dengan pengetahuan

ilmiah yang berlaku saat ini. Siswa dapat belajar merumuskan pertanyaan-pertanyaan, merancang

penyelidikan, menginterpretasikan data, menggunakan bukti untuk merumuskan penjelasan,

mengusulkan penjelasan-penjelasan alternatif, dan mengkritik penjelasan-penjelasan dan

prosedur-prosedur.




c. Menggunakan alat-alat dan teknik yang sesuai untuk mengumpulkan, menganalisis, dan

menginterpretasikan data

Penggunaan alat-alat dan teknik-teknik, termasuk matematika, akan dibimbing oleh pertanyaan

yang diajukan dan penyelidikan yang dirancang siswa. Penggunaan komputer untuk pengumpulan,

pengikhtisaran dan peragaan bukti merupakan bagian dari standar ini. Siswa seharusnya dapat

mengakses, mengumpulkan, menyimpan, memanggil kembali, dan mengorganisasikan data, menggunakan

perangkat keras dan perangkat lunak yang dirancang untuk tujuan ini.




d. Mengembangkan deskripsi, penjelasan, prediksi, dan model-model dengan menggunakan bukti.

Siswa seharusnya mendasarkan penjelasan mereka pada apa yang mereka amati, dan pada saat mereka

mengembangkan keterampilan-keterampilan kognitif, mereka seharusnya dapat membedakan penjelasan

dan deskripsi, menetapkan sebab-sebab untuk pengaruh-pengaruh dan menyusun hubungan-hubungan

berdasarkan pada bukti dan argumen logis. Standar ini secara efektif dapat melakukan

penyelidikan, karena mengembangkan penjelasan berarti menyusun hubungan antara konten sains dan

konteks, dan di dalam konteks tersebut siswa mengembangkan pengetahuan baru.




e. Berpikir secara kritis dan logis untuk membuat hubungan antara bukti dan penjelasan

Berpikir secara kritis tentang bukti termasuk menentukan bukti apa yang seharusnya digunakan

dan memberikan penjelasan pada data yang tidak lazim. Khususnya, siswa seharusnya dapat mereviu

data dari suatu ekspremen sederhana, mengikhtisarkan data tersebut, dan menyusun suatu argumen

logis tentang hubungan sebab akibat dalam eksperimen tersebut. Siswa seharusnya mulai

menyatakan beberapa penjelasan dalam bentuk hubungan antara dua variabel atau lebih.




f. Mengenali dan menganalisis penjelasan-penjelasan dan prediksi-prediksi alternatif

Siswa seharunya mengembangkan kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik dan menghargai

penjelasan-penjelasan yang diajukan siswa lain. Mereka seharusnya tetap terbuka dan menghargai

ide-ide dan penjelasan-penjelasan yang berbeda, dapat menerima skeptisisme dari orang lain, dan

mempertimbangkan penjelasan-penjelasan alternatif.




g. Mengkomunikasikan prosedur-prosedur dan penjelasan-penjelasan ilmiah

Melalui latihan, siswa seharusnya menjadi kompeten dalam pengkomunikasikan metode-metode

eksperimen, mengikuti petunjuk, mendeskribsikan pengamatan, mengikhstisarkan hasil-hasil dari

kelompok lain, dan menjelaskan kepada siswa lain tentang penyelidikan-penyelidikan dan

penjelasan-penjelasan.




h. Menggunakan matematika dalam seluruh aspek inkuiri ilmiah

Matematika itu penting, dalam mengajukan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang dunia

alamiah. Matematika dapat digunakan untuk mengajukan pertanyaan untuk mengumpulkan,

mengorganisasikan, dan menyajikan data, dan untuk menyusun penjelasan yang meyakinkan.




Teori Belajar Konstruktivisme




Teori-teori baru dalam psikologi pendidikan dikelompok dalam teori pembelajaran konstruktivis

(constructivist theories of learning)।Teori konstruktivis ini menyatakan bahwa siswa harus

menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan

aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai। Bagi siswa agar

benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah,

menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide।Teori ini

berkembang dari kerja Piaget, Vygotsky, teori-teori pemrosesan informasi, dan teori psikologi

kognitif yang lain, seperti teori Bruner (Slavin dalam Nur, 2002: 8).







Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan

adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus

membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses

ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri,

dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk

belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih

tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut ( Nur, 2002 :8).






























































































Hubungan Inkuiri dan Keterampilan Proses

Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak benar seratus persen, penemuannya bersifat

relatif. Semua konsep yang temukan melalui penyelidikan ilmiah masih tetap terbuka untuk

dipertanyakan, dipersoalkan, dan diperbaiki (Semiawan, 1992, 15).




Jika kita ingin menanamkan inkuiri dalam diri siswa, maka cara menuangkan informasi

sebanyak-banyaknya ke dalam otak siswa tidaklah sesuai dengan maksud pendidikan, anak perlu

dilatih untuk selalu bertanya, berpikir kritis, dan mengusahakan kemungkinan-kemungkinan

jawaban terhadap satu masalah. Dengan demikian, anak perlu dibina berpikir dan bertindak secara

kreatif.




Pembelajaran inkuiri adalah suatu pembelajaran yang dirancang untuk mengajarkan kepada siswa

bagaimana cara meneliti permasalahan atau pertanyaan fakta-fakta. Pembelajaran inkuiri

memerlukan lingkungan kelas dimana siswa merasa bebas untuk berkarya, berpendapat, membuat

kesimpulan dan membuat dugaan. Suasana seperti itu amat penting karena keberhasilan

pembelajaran bergantung pada kondisi pemikiran siswa.




Inkuiri memberikan peluang, ruang, dan dorongan untuk mempelajari berbagai

keterampilan-keterampilan menentukan kapan saatnya memberikan suatu sentuhan, menentukan

petunjuk-petunjuk apa yang tepat diberikan pada tiap siswa tertentu, menentukan apa yang tidak

perlu dikatakan pada siswa, menentukan cara membaca perilaku siswa pada saat mereka bekerja

menghadapi tantangan dan cara merancang suatu situasi pembelajaran bermakna dengan

memperhitungkan perilaku tersebut, menentukan kapan pengamatan, hipotesis, atau eksperimen

adalah bermakna, menentukan cara bagaimana memberikan toleransi terhadap keragu-raguan,

menentukan bagaimana menggunakan kesalahan-kesalahan secara konstruktif, dan menentukan

bagaimana membimbing siswa sehingga memberikan mereka keleluasaan kontrol atas eksplorasi

mereka tanpa guru kehilangan kontrol atas kelas.

0 komentar:

Poskan Komentar